Teman yang baru keluar dari lapas bertanya, mengapa residivis rata-rata menjadi penjahat kambuhan? Dijawab sendiri, karena bimbingan untuk para narapidana itu hanya berupa omong kosong, tidak seimbang, jika para penjahat, kriminal tersebut hanya dijejali dakwah tanpa ada arahan pelatihan ketrampilan sama sekali di dalam lapas.
Kira-kira demikian yang temanku sampaikan kepadaku.
Kebanyakan menurut dia, mereka yang masuk penjara adalah disebabkan tekanan ekonomi. Lalu jika tidak ada solusi yang tepat sasaran dalam bimbingan pemasyarakatan, atau memasyarakatkan kembali sampah masyarakat tersebut, maka nama pemasyarakatan tinggallah nama indah berbuai mimpi berujung ironi.
Di Setiap alun-alun di tanah jawa khususnya Jawa Tengah mempunyai denah yang sama. Di sebelah utara Ada balai pemerintahan di sebelah barat ada Masjid, dan di sebelah timur ada Lapas. Demikian juga di Banyumas, di sebelah baratnya ada masjid antik Masjid Agung Nur Sulaiman, dan mempunyai dalam Lapas Banyumas sebelah timur alun-alun. Di Lapas Banyumas itu konon terdapat ruang bernama Bingker, yang sepi dari kegiatan selama temanku menginap di hotel prodeo itu selama enam bulan. Sampai-sampai diapun tidak tahu singkatannya apa, barangkali Bingker itu Bimbingan Kerja ya?
Perpustakaan juga tidak ada. Jadi semua slogan manis untuk memanusiakan manusia, menjadi bengkel manusia yang rusak tersebut hanyalah OMDO alias omong doang.
Satu-satunya pelajaran ketrampilan kerja yang mereka pasti dapatkan ialah sharing pengalaman, tukar-menukar skill kelihayan dalam berbuat kejahatan.
Sangat boleh jadi Lapas lembaga pemasyarakatan itu hanyalah Criminal Academy alias Akademi Kriminal dimana para mahasiswanya saling berdiskusi untuk bisa menciptakan modus kejahatan terbaru, tercanggih, lengkap 303 SKS. jiahh bukan pasal 303 tu pasal perjudian? haha rumus togel.
#tag kriminal Lembaga kejahatan kebaikan kuliah